Detail Artikel
Apa yang dapat dirasakan langsung oleh pencari keadilan!
Tanggal Rilis Artikel : 30 Mei 2022, Pukul 07:36 WIB, Dilihat 193 Kali
Penulis : Bambang Subroto, S.H., M.M.
Apa yang dapat dirasakan langsung oleh pencari keadilan!
Orang yang datang ke Pengadilan adalah mereka-mereka yang minta masalahnya dapat diselesaikan/ mencari solusi pemecahan masalah yang terjadi. Untuk itu garda depan dan ujung tombak langsung bertemu adalah petugas-petugas antara lain : keamanan, reception, petugas pelayanan baik meja informasi dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). Petugas-petugas inilah yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk paham akan tugas pokok dan fungsi pengadilan, pimpinan pengadilan diharapkan untuk turun langsung memantau, memotivasi dan mengevaluasi apa yang diharapkan oleh pencari keadilan sesuai hasil survey, kotak saran untuk mencari solusi dan perbaikan sistem, juga sarana prasarana yang ada. Pengadilan Tinggi Agama sebagai kawal depan Mahkamah Agung yang diamanatkan Undang Undang sesuai dengan tugas pokok dan fungsi dalam hal pembinaan dan pengawasan, dalam hal ini Hakim Tinggi Pengawas Daerah melakukan pengawasan juga pembinaan sesuai daerah/ wilayah yang menjadi wewenangnya (CCTV Online) salah satunya. Pengadilan Tinggi Agama Surabaya mengadakan Bimbingan Teknis Bidang Manajemen Kepaniteraan dan Sita Eksekusi terhadap seluruh satker (Pengadilan Agama) di wilayah hukumnya yang diikuti oleh bagian Kepaniteraan (Panitera Muda Gugatan, dan Jurusita) bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dalam menunjang pelaksanaan tugas sehari-hari sebagaimana termaktub dalam amanat Undang- Undang Peradilan Agama (Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Perubahan Kedua dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009). Bimbingan Teknis, Diklat di Tempat Kerja (DDTK) tentang bagaimana pengelolaan penerimaan perkara mulai register, penyampaian relaas, Penetapan Majelis Hakim (PMH), Penetapan Hari Sidang (PHS) sampai perkara diputus, minutasi, pengarsipan (administrasi perkara), persidangan (administrasi persidangan) sangat diperlukan dan berjenjang/ berkesinambungan dalam pelaksanaan tugas yang dibebankan kepadanya. Peningkatan kompetensi tenaga teknis sangat dibutuhkan, untuk Panitera/Panitera Muda Gugatan dengan materi bagaimana pelaksanaan sita dan eksekusi, upaya hukum banding, kendala-kendala yang ada, sipp, litigasi, e-court banding, Berita Acara Sidang dalam teori dan praktek. Yang menjadi ujung tombak langsung dan bertemu pihak dalam penyampaian/ pemberitahuan/relaas, melaksanaan penyitaan, melaksanakan eksekusi/ lelang, sehingga jurusita sesuai dengan Pasal 103 Undang-Undang tentang Peradilan Agama dibekali peningkatan kompetensi akan pemahaman sita dan eksekusi, peletakan sita, pengangkatan sita, sita jaminan, sita eksekusi, permasalahan sita saham dan rekening bank, problematik hak tanggungan. Kegiatan peningkatan kompetensi tenaga teknis yang dilakukan dapat menjawab apa yang diharapkan masyarakat pencari keadilan, juga untuk mewujudkan asas peradilan cepat, sederhana, dan biaya ringan, memegang teguh kode etik Panitera/ Jurusita. Pembekalan dari pimpinan pengadilan tingkat banding (Ketua dan Wakil), hakim tinggi bukan dari praktisi hukum, karena berkenaan dengan pengalaman dalam teori dan praktek beracara di pengadilan lebih mumpuni permasalahan-permasalahan yang timbul, juga hukum acara peradilan agama demi terwujudnya peradilan agama yang agung sesuai misi pengadilan agama. Setelah dilakukan peningkatan kompetensi tenaga teknis peradilan agama diharapkan mampu menjawab tantangan masyarakat pada umumnya dan pencari keadilan khususnya yang menjadi permasalahan dalam penanganan perkara pada tingkat pertama, banding, juga Kasasi/Peninjauankembali(PK), bekerja sesuai standar layanan/ SOP, berintegritas, professional, kompeten, berwawasan ke depan dan bersama-sama mewujudkan peradilan modern mampu menjawab tantangan juga ancaman yang timbul dimasa yang akan datang.