Berita Pengadilan Tinggi Agama Surabaya
HAKIM TINGGI PTA SURABAYA MENJADI NARASUMBER DALAM TALKSHOW DP3AK - PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR
Tanggal Rilis Berita : 13 Oktober 2022, Pukul 22:02 WIB, Telah dilihat 69 Kali

Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) mengadakan talkshow berkualitas dengan tema “Penguatan Ketahanan Keluarga Menuju Keluarga Yang Berkualitas”, Rabu (12/10/2022). Dalam kegiatan ini, DP3AK mengundang narasumber yang sangat berkompeten di bidangnya, yakni dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Dr Nur Ainy Fardana N MSi, dan Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Agama Surabaya, Hj Atifahturrahmaniyah S.H.,M.H. 

2

Diawali dengan pembahasan permasalahan yang dapat mengganggu ketahanan keluarga. Psikolog dan dosen Fakultas Psikologi Unair, Nur Ainy Fardana mengatakan, kondisi psikologis tiap pasangan berbeda-beda, serta kematangan mentalnya berbeda. Kondisi ini tidak berbanding lurus dengan tingkat pendidikan “Ada pasangan yang tingkat pendidikannya tinggi, ternyata mereka tidak tangguh dalam menghadapi permasalahan keluarga. Begitupun yang religiusitasnya tinggi tidak menjamin ketika mereka tidak betul-betul dapat menjalani atau mengimplementasikan yang ada pada ajaran agamanya”, ujarnya. Selain itu Terdapat 2 faktor yang dapat menjadi permasalahan dalam ketahanan keluarga, yakni internal dan eksternal. Faktor eksternal diantaranya ialah perbedaaan budaya, gaya hidup, kekerabatan. Sedangkan faktor internalnya adalah kondisi psikologis, seperti adanya traumatic. “Traumatik yang dirasakan dalam keluarga ketika diasuh oleh orang tua misalnya, atau orang tuanya divorce (cerai), banyaknya pertengkaran dalam keluarga, dapat menjadi permasalahan dikehidupan pernikahan anaknya yang dapat mengancam ketahanan keluarga, yang kemudian berakhir dengan perceraian”, tambahnya.

3

Sementara itu, Hakim Tinggi PTA Surabaya, Ibu Atik, sapaannya, mengungkapkan “Ketika menjadi sebuah keluarga, masing-masing harus mengerti hak dan kewajibannya. Laki-laki diangkat oleh Allah derajatnya untuk menjadi kepala keluarga, namun kewajibannya juga berat. Seorang suami harus memberikan sandang, pangan, papan, kesehatan. Sedangkan istri, berkewajiban mengurus rumah tangganya, mendidik anak-anaknya, karena keluarga adalah madrasah utama untuk anak”, ujarnya. Oleh sebab itu, diperlukan ketahanan keluarga untuk dapat mencipatakan keluarga yang berkualitas. Ketahanan keluarga adalah kemampuan dalam menghadapi persoalan-persoalan dalam keluarga. 

42

Kemudian dilanjut dengan pembahasan permasalahan perceraian, menurutnya banyaknya perceraian terjadi karena kurangnya kesiapan pernikahan. Untuk saat ini, hal ini banyak terjadi pada anak usia dini yang mengajukan permohonan dispensasi nikah. Banyaknya permasalan ini terjadi karena MBA (married by accident) atau hamil duluan. “Dikabulkannya permohonan ini karena pengadilan agama harus melindungi perempuan dan anak. Karena mereka membutuhkan sosok yang bertanggung jawab. Sementara, laki-lakinya tidak dapat memberikan nafkah lahir (sandang, pangan, papan) karena tidak memiliki pekerjaan tetap, sehingga dari sinilah permasalahan ketahanan keluarga muncul hingga terjadi perceraian” jelasnya. (cit/one)

Belum ada komentar, jadilah yang pertama Komentar !