Selasa, 27 Oktober 2026, pegawai Pengadilan Agama Situbondo, Rifkiawatizahra, S.H., mengikuti kegiatan Penyajian Produk Pameran Virtual “Top Secret” dan “Jasa Presiden”. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara daring dari Ruang Kepaniteraan Pengadilan Agama Situbondo. Kegiatan ini menghadirkan Bara Sakti sebagai narasumber yang menyampaikan materi mengenai riset sejarah dan identifikasi arsip dalam penyusunan pameran virtual. Materi yang disampaikan menyoroti pentingnya penelitian terhadap khazanah arsip statis sebagai sumber informasi sejarah. Pembahasan tersebut memberikan wawasan mengenai proses penggalian informasi sejarah yang memerlukan ketelitian dan pemahaman terhadap konteks peristiwa. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan dapat memperluas pengetahuan mengenai pengelolaan arsip serta pemanfaatannya sebagai sumber informasi yang bernilai.
<img src="https://i.ibb.co.com/fGqzKRf5/Whats-App-Image-2026-10-27-at-14-24-30-1.jpg" alt="Whats-App-Image-2026-10-27-at-14-24-30-1" border="0">
Dalam pemaparannya, Bara Sakti menjelaskan bahwa riset sejarah dan identifikasi arsip merupakan tahapan penting dalam penyajian pameran bertema sejarah. Arsip statis memiliki nilai guna berkelanjutan karena dapat menjadi sumber informasi mengenai peristiwa, tokoh, dan perkembangan pada masa lampau. Proses identifikasi diperlukan untuk mengenali isi, konteks, serta keterkaitan arsip dengan tema yang diangkat. Penelitian terhadap arsip juga membutuhkan ketelitian agar informasi yang disajikan memiliki dasar yang jelas. Selain itu, pemahaman terhadap latar belakang sejarah membantu penyusun pameran menentukan informasi yang relevan bagi pengunjung. Dengan demikian, riset dan identifikasi menjadi fondasi dalam menghasilkan penyajian sejarah yang informatif dan bermakna.
<img src="https://i.ibb.co.com/hxRnS6dS/Whats-App-Image-2026-10-27-at-14-24-30-2.jpg" alt="Whats-App-Image-2026-10-27-at-14-24-30-2" border="0">
Salah satu pokok bahasan dalam kegiatan tersebut adalah proses intelektual yang tajam dalam perspektif kesejarahan. Penyusunan pameran sejarah tidak cukup hanya dengan mengumpulkan dokumen atau menampilkan arsip yang tersedia. Diperlukan analisis untuk memahami hubungan antara satu sumber dengan sumber lainnya serta menempatkannya dalam konteks peristiwa yang tepat. Pendekatan tersebut membantu penyusun membangun narasi sejarah yang lebih terarah dan mudah dipahami. Bara Sakti menyampaikan, “Penyajian pameran sejarah memerlukan riset yang cermat agar setiap arsip yang ditampilkan memiliki konteks, keterkaitan, dan nilai informasi yang jelas.” Pesan tersebut menegaskan pentingnya proses penelitian dalam menghasilkan pameran yang dapat dipertanggungjawabkan.
Materi berikutnya menekankan pentingnya pengetahuan perspektif kearsipan dalam proses penyusunan pameran virtual. Perspektif kearsipan membantu memahami asal-usul, fungsi, dan nilai informasi yang terkandung dalam suatu arsip. Setiap arsip perlu diidentifikasi dengan memperhatikan konteks penciptaan dan keterkaitannya dengan informasi lain. Pemahaman tersebut dapat membantu mencegah penyajian informasi yang terlepas dari latar belakang sejarahnya. Selain itu, pengetahuan kearsipan mendukung pemilihan dokumen yang relevan dengan tema pameran. Melalui pendekatan ini, arsip dapat dimanfaatkan sebagai sumber pengetahuan yang memperkaya pemahaman masyarakat terhadap sejarah.