Dua Tahun, Satu Gerakan, Seribu Dampak: FAPPI Meneguhkan Spirit Perubahan Peradilan
Dua tahun perjalanan Forum Agen Perubahan Peradilan Indonesia (FAPPI) menjadi momentum untuk kembali meneguhkan komitmen perubahan di lingkungan peradilan agama. Bertempat di Aula Pengadilan Tinggi Agama Surabaya, Rabu (9/9/2026), peringatan Milad ke-2 FAPPI berlangsung secara hybrid dan diikuti secara virtual oleh seluruh Agen Perubahan Pengadilan Agama di wilayah PTA Surabaya.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua PTA Surabaya, Wakil Ketua PTA Surabaya, Panitera PTA Surabaya, Kabag Perencanaan dan Kepegawaian, Kabag Keuangan dan Umum, jajaran Kepala Subbagian, serta para Agen Perubahan dari seluruh Pengadilan Agama di wilayah PTA Surabaya.
Mengusung semangat perubahan dan kolaborasi, agenda Milad ke-2 FAPPI diawali dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan Hymne Mahkamah Agung Republik Indonesia, dilanjutkan sambutan Ketua PTA Surabaya, sambutan Panitera PTA Surabaya, serta evaluasi project Agen Perubahan.
Dalam sambutannya, Ketua PTA Surabaya, Zulkarnain mengajak seluruh Agen Perubahan untuk tidak hanya berbicara mengenai perubahan hari ini, tetapi juga memahami perjalanan yang telah dilalui dan menyiapkan masa depan. Menurutnya, mempelajari sejarah merupakan bagian penting dalam mengukir masa depan. Dengan memahami proses, pengalaman, keberhasilan, maupun tantangan masa lalu, organisasi akan memiliki pijakan yang lebih kuat untuk menentukan arah perubahan ke depan.

Ketua PTA Surabaya juga menekankan pentingnya keberadaan FAPPI sebagai sebuah organisasi yang mampu menyatukan energi para Agen Perubahan. Ia mengibaratkan kekuatan tersebut seperti sapu lidi. “Satu lidi tidak akan dapat digunakan secara optimal untuk menyapu. Namun ketika lidi-lidi tersebut dikumpulkan dan disatukan, terbentuklah sebuah sapu yang memiliki kekuatan dan fungsi,” demikian pesan yang disampaikan dalam sambutannya.
Perumpamaan tersebut menjadi refleksi bahwa perubahan tidak dapat dibangun secara sendiri-sendiri. Diperlukan kebersamaan, koordinasi, dan kolaborasi agar berbagai gagasan yang lahir dari para Agen Perubahan dapat menjadi gerakan yang memberikan dampak lebih luas bagi organisasi.
Lebih lanjut, KPTA Surabaya menyampaikan bahwa terdapat tiga aspek penting yang perlu diperhatikan dalam melakukan perubahan, yaitu mindset, culture set, dan management set.

Perubahan mindset diperlukan untuk membangun cara berpikir yang terbuka terhadap inovasi. Perubahan culture set diperlukan untuk membentuk budaya kerja yang mendukung nilai-nilai positif dan kolaboratif. Sementara management set diperlukan agar perubahan dapat dikelola secara sistematis, terarah, dan berkelanjutan. Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi agar perubahan tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi dapat diwujudkan menjadi budaya dan sistem kerja yang memberikan manfaat nyata.
Sementara itu, Panitera PTA Surabaya dalam sambutannya menyampaikan alur pikir mengenai cikal bakal bertumbuhnya aplikasi SAMARA (Satria Majapahit Juara) sebagai salah satu bentuk pengembangan gagasan dan kolaborasi dalam mendukung inovasi peradilan.
Disampaikan bahwa semangat inovasi perlu terus dikembangkan oleh para Agen Perubahan melalui jejaring dan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan. Untuk itu, para Agen Perubahan diharapkan mampu membangun perjanjian kerja sama dengan stakeholder di tingkat kabupaten/kota, sehingga inovasi dan program perubahan yang dikembangkan dapat memiliki jangkauan manfaat yang lebih luas.

Agenda kemudian dilanjutkan dengan evaluasi project Agen Perubahan, sebagai ruang refleksi terhadap berbagai program yang telah dilaksanakan. Evaluasi tidak hanya menjadi sarana untuk melihat capaian, tetapi juga mengidentifikasi kendala, peluang pengembangan, serta keberlanjutan project ke depan.
Sesi evaluasi berlangsung interaktif dengan adanya tanya jawab dari para Agen Perubahan, di antaranya dari Pengadilan Agama Ponorogo dan Pengadilan Agama Probolinggo. Diskusi tersebut menunjukkan antusiasme para Agen Perubahan dalam mengembangkan gagasan, memperkuat kolaborasi, serta mencari solusi terhadap berbagai tantangan implementasi perubahan di satuan kerja masing-masing.
Saat ini, FAPPI dipimpin oleh Nidzom Anshori, Kabag Perencanaan dan Kepegawaian PTA Surabaya, yang diharapkan mampu membawa organisasi semakin solid dan adaptif dalam mengawal agenda perubahan. Milad ke-2 FAPPI pada akhirnya bukan sekadar peringatan bertambahnya usia organisasi. Lebih dari itu, momentum ini menjadi pengingat bahwa perubahan membutuhkan keberanian untuk memulai, kekuatan untuk bersatu, serta konsistensi untuk menjadikannya budaya.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama Komentar !