Berita Pengadilan Tinggi Agama Surabaya
KPTA SURABAYA MENGIKUTI DIALOG DITJEN BADILAG MARI DAN FCOA
Tanggal Rilis Berita : 05 Oktober 2021, Pukul 19:53 WIB, Telah dilihat 367 Kali

Surabaya – Humas, Ketua Pengadilan Tinggi Agama Surabaya - Drs. H. M. Yamin Awie, S.H., M.H mengikuti acara yang diselenggarakan oleh Ditjen Badilag MA RI tentang Dialog Hukum yang bekerja sama dengan FCOA (Family Court Of Australia), Selasa (05/10/2021). Acara ini mengambil tema “Perlindungan Hak dan Akses Keadilan bagi Perempuan dan Anak” dan dilakukan secara virtual seluruh Indonesia. Dalam acara dialog tersebut dihadiri oleh Dr. Drs. Aco Nur, S.H., M.H selaku Dirjen Badilag MA RI, Craig Ewers dan The. Hon Justice Judy Ryan dari FCOA, serta Dr. Drs. H. Amran Suadi, S.H., M.Hum., M.M selaku Ketua Kamar Agama MA-RI dan seluruh satuan kerja peradilan di Indonesia.

2

Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Mahkamah Agung . Setelah itu dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan oleh Craig Ewers, beliau menyampaikan bahwa telah menjalin kerja sama sejak 2004 dan mendukung kegiatan ini hingga sekarang serta telah menandatangai MOU hingga tahun 2023. “Tujuan dialog ini adalah untuk meningkatkan keadilan bagi anak dan perempuan pasca perceraian. Kegiatan ini tetap dilakukan walaupun dalam suasana pandemic”, ujarnya.

3

Kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi yang pertama disajikan oleh Dr. Drs. Aco Nur, S.H., M.H. Beliau menyatakan bahwa pada tahun 2020 hanya 3% putusan yang memuat hak istri (perempuan) dan anak. “Badilag selalu berupaya untuk berinovasi dalam menciptakan kemudahan pelayanan peradilan bagi masyarakat diantaranya adalah perempuan dan anak. Salah satunya dengan menciptakan aplikasi baru yaitu aplikasi Gugatan Mandiri”, terangnya. 

4

Kemudian dilanjutkan pemaparan oleh Dr. Drs H. Amran Suadi, S.H., M.Hum., M.M. Dalam kesempatannya beliau menyampaikan saran “sebelum akta cerai diterima, pihak suami berikrar untuk menafkahi dan mendapat hukuman apabila tidak menepati. Hukum bukan sebatas tertulis namun juga memberi kebahagaiaan bagi setiap orang”, tegasnya.

5

Pemateri terakhir yaitu The. Hon Justice Judy Ryan dari FCOA. Beliau mengucapkan selamat kepada pengadilan di Indonesia dengan diluncurkannya aplikasi gugatan mandiri untuk mempermudah masyarakat mencari keadilan. Dalam penyampaiannya beliau menceritakan perkembangan system peradilan di Australia. Beliau menyampaikan “Terdapat peraturan baru di pengadilan Sydney yang lebih efisien. Karena pandemi, kita tidak dapat bertemu langsung dengan pencari keadilan, namun mereka bisa berinteraksi dengan pengadilan melalui elektronik. Salah satu perkembangan yang dilakukan adalah apabila pencari keadilan dengan permasalahan yang urgent berada di wilayah Sydney dan kebetulan hakim di Sydney terlalu sibuk, maka permasalahan itu dapat diberikan kepada hakim yang berada di wilayah Melbourne, dengan begitu permasalahan dapat cepat diselesaikan.””, paparnya. 

6

Beliau juga mengatakan bahwa di lembaga peradilan Australia terdapat hakim dan panitera khusus untuk menangani kasus KDRT. Mereka memberikan pertanyaan yang mendetail mengenai KDRT yang dialami. Di Australia juga terdapat Child Support Agency yang dibentuk pemerintah untuk melindungi anak. (ctr/one/dzom)

Belum ada komentar, jadilah yang pertama Komentar !