Lumajang – Aparatur Pengadilan Agama (PA) Lumajang mengikuti kegiatan Webinar SAPA DP3AK Jatim Seri 187 bertajuk “Bebas dari Toxic Parenting: Membangun Pengasuhan Positif untuk Masa Depan Keluarga” pada Senin, 16 Maret 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dari ruang kepaniteraan PA Lumajang. Dalam kegiatan ini, dua aparatur PA Lumajang yaitu Dyna Wahyu Rahmalya, S.H. dan Nuri Fery Prasetyanti, S.H. turut mengikuti kegiatan sebagai peserta. Webinar ini diselenggarakan oleh DP3AK Provinsi Jawa Timur sebagai bagian dari program edukasi keluarga melalui kegiatan SAPA DP3AK Jatim.

Kegiatan webinar menghadirkan narasumber yang kompeten di bidang pengasuhan dan psikologi keluarga. Opening speech disampaikan oleh Dra. Sufi Agustini, M.Si selaku Kepala Dinas P3AK Provinsi Jawa Timur. Selanjutnya materi utama disampaikan oleh Soffy Balgies, M.Psi., Psikolog yang juga merupakan Ketua Asosiasi Konselor Keluarga dan Pernikahan Indonesia. Dalam paparannya, narasumber menekankan pentingnya membangun pola pengasuhan yang positif guna menghindari praktik toxic parenting yang dapat berdampak pada perkembangan anak.

Selama mengikuti kegiatan tersebut, peserta memperoleh berbagai wawasan mengenai pentingnya komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak. Materi yang disampaikan juga membahas dampak negatif pola pengasuhan yang kurang tepat terhadap kondisi psikologis anak. Selain itu, narasumber memberikan berbagai tips dalam menciptakan lingkungan keluarga yang suportif, penuh empati, serta komunikasi terbuka. Dengan demikian, orang tua diharapkan mampu mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Salah satu peserta dari PA Lumajang, Dyna Wahyu Rahmalya, S.H., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan wawasan yang sangat bermanfaat. “Webinar ini sangat menarik dan memberikan pemahaman baru mengenai pentingnya pola pengasuhan yang positif dalam keluarga,” ujar Dyna. Ia menambahkan bahwa materi yang disampaikan narasumber dapat menjadi bekal pengetahuan bagi masyarakat dalam membangun hubungan yang sehat antara orang tua dan anak. Menurutnya, edukasi seperti ini sangat penting untuk mencegah praktik toxic parenting dan mewujudkan keluarga yang harmonis.