Selasa, 14 Oktober 2025, pegawai Pengadilan Agama Situbondo, Yoyok Hadi Purwanto, S.H., mengikuti Webinar Mental Health Awareness bertema “Membangun Resiliensi dalam Menghadapi Tantangan Perubahan”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara daring. Yoyok mengikuti kegiatan tersebut dari ruang Kepaniteraan Pengadilan Agama Situbondo. Narasumber dalam kegiatan ini yaitu Deasy M. Amrin, yang menyampaikan materi seputar pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah dinamika perubahan organisasi.

Dalam pembukaan materinya, Deasy M. Amrin menjelaskan bahwa kesehatan mental adalah kondisi sejahtera yang memungkinkan individu untuk menyadari kemampuannya. Ia menambahkan bahwa individu yang sehat secara mental mampu mengatasi tekanan hidup dengan lebih baik. “Orang dengan kesehatan mental yang baik dapat belajar dan bekerja secara produktif, serta berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya,” jelasnya. Menurutnya, aspek ini sering kali terabaikan dalam dunia kerja yang penuh target dan tekanan. Ia menekankan bahwa keseimbangan antara beban kerja dan kesehatan mental harus dijaga oleh setiap pekerja.

Selanjutnya, narasumber menyoroti tantangan besar yang dihadapi pekerja akibat perubahan dan ketidakstabilan organisasi. Ia menjelaskan bahwa perubahan, meski bertujuan baik, sering kali menghadirkan stres dan kecemasan baru bagi pegawai. “Perubahan yang terlalu cepat dan sering tanpa persiapan bisa menimbulkan kelelahan psikologis,” ujar Deasy. Menurutnya, ketidakpastian dan minimnya komunikasi dalam proses perubahan dapat menurunkan kemampuan beradaptasi pegawai. Dalam jangka panjang, hal ini dapat berdampak pada menurunnya motivasi dan kepercayaan diri di tempat kerja. Oleh karena itu, manajemen perubahan perlu dilakukan secara manusiawi dan komunikatif.
Deasy juga menjelaskan beberapa dampak nyata dari ketidakstabilan organisasi terhadap kondisi mental pegawai. Pertama, meningkatnya stres dan kecemasan akibat perubahan struktur atau sistem kerja. Kedua, turunnya kepercayaan dan moral pegawai yang merasa tidak aman dengan posisinya. Ketiga, terganggunya support system karena berkurangnya rekan kerja atau restrukturisasi organisasi. Selain itu, narasumber menekankan bahwa kesehatan mental yang terganggu dapat memicu gejala burnout dan depresi. Ia menjelaskan bahwa ketidakstabilan yang berlarut-larut akan berdampak negatif terhadap kesejahteraan psikologis pegawai. Ia mencontohkan kasus-kasus di mana stres tinggi menyebabkan absensi meningkat dan produktivitas menurun. Oleh karena itu, setiap organisasi perlu memberi ruang untuk pemulihan dan keseimbangan bagi pegawainya.